08 June 2015

Ingin Menikah, Kenapa Takut?

SAAT ini bisa disebut dengan zaman fitnah. Orang yang menikah saja masih bisa tergoda apalagi yang belum menikah. Hanya bedanya yang sudah menikah punya jalan keluar yang bisa menenangkan pikiran dan jiwanya, adapun yang masih lajang, janda ataupun duda maka rajin-rajinlah berpuasa karena itu benteng terakhir Anda.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: “Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:  Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).‘”(Muttafaq ‘alaih)
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata tentang fenomena menunda-nunda pernikahan, ia menyindir seseorang yang belum menikah padahal ia sudah layak untuk menikah, karena tiada penghalang menikah baginya.
“Tidak ada yang menghalangimu menikah kecuali kelemahan (lemah syahwat) atau kemaksiatan (ahli maksiat).”
Perkataan Umar tersebut akhirnya dijadikan sebagai rujukan oleh generasi setelahnya. Ibrahim bin Maisarah berkata, “Thawus berkata kepadaku: Engkau benar-benar menikah atau aku mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan ‘Umar kepada Abu Zawaid, “Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau kemaksiatan (ahli maksiat).”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : “Seandainya aku tahu bahwa ajalku tinggal sepuluh hari lagi, dan aku mempunyai kemampuan menikah, maka aku akan menikah. Karena aku tidak suka bertemu dengan Allah dalam keadaan membujang.”
Wahai kaum Adam, Anda merupakan lelaki hebat, segera temui kedua orangtua calon maupun keluarganya, tanpa perlu menunda-nunda, tidak perlu takut ditolak, karena dunia ini begitu luas dan banyak perempuan shalehah, jika lamaran Anda ditolak, maka Anda tinggal mencari lagi.  Buktikan kalau Anda memang seorang lelaki sejati.
Teruntuk kaum Hawa, banyaklah bersabar dengan terus memperbaiki diri dan berdoa sepenuh hati agar pangeran berkuda putih segera datang menjemput Anda, adapun dicarikan melalui bantuan orang lain hukumnya boleh-boleh saja.
Anda bisa memulai melakukan proses pencarian belahan jiwa terlebih dahulu, sebagaimana hal ini pernah dilakukan Khadijah kepada Rasulullah dengan mengutarakan maksud dan tujuannya melalui perantara orang lain. Andapun bisa melakukannya dengan orang yang anda percaya.*/Guntara Nugraha Adiana Poetra, Pimred ISCO 
(www.hidayatullah.com)

07 June 2015

Anak yang Dibesarkan dengan Doa

DINI HARI, seorang anak bangun dengan tubuh yang menggigil. Panas tinggi yang bersarang, membuatnya merengek pada ibunya. Pertama minta diambikan minum, kemudian minta dipijat karena badan bagian belakangnya sakit, kemudian minta dielus-elus kepalanya. Beberapa saat kemudian, deru nafasnya sudah mulai mereda dan matanya mulai mengatup. Si ibu pun mulai terlelap karena kelelahan menjaga buah hatinya yang sedang demam tersebut.
Namun, lagi-lagi balita berumur empat tahun itu terjaga, ia menarik jari ibunya yag masih menempel di kepalanya. Sang ibu pun ikut terjaga, “Ada apa, Nak? Ibu kira kamu sudah tidur.” Balita itu menjawab, “Aku belum bisa tidur, Bu. ‘Kan aku belum berdoa.” Ibunya tersenyum dan menuntun balitanya itu berdoa sebelum tidur. Tak lama, buah hatinya itu kembali terlelap.
Awal Kejayaan Umat
Berdoa mungkin menjadi bagian yang sudah dibiasakan dalam kehidupan anak, bahkan tidak ada taman kanak-kanak muslim yang lupa mengharuskan anak-anak didiknya menghapal doa sehari-hari. Anak-anak kita yang cerdas, begitu cepat menghapal doa sehari-hari yang diajarkan kita di rumah maupun gurunya di sekolah. Namun, betapa banyak anak-anak kita yang juga sangat cepat melafalkan doa tersebut dengan sekadarnya, manakala kita memintanya berdoa ketika hendak melakukan sesuatu. Doa kepada Penciptanya meluncur deras dari mulut mereka laksana hapalan rumus atau perkalian angka, tanpa bekas yang mengakar dalam jiwa mereka.
Padahal doa sejatinya adalah sumsumnya ibadah ummat ini. Begitu pula anak-anak yang kemudian tumbuh menjadi manusia dewasa yang lebih percaya pada apa yang mampu dilakukannya, dibandingkan kuasa Sang Pemilik Semesta untuk menetapkan apapun yang akan terjadi. Termasuk hal yang tidak diharapkan. Meski mereka adalah orang-orang yang mengenal iman sejak usia dini. Maka, berdoa pun kini menjadi hak orang-orang yang dianggap pandai merangkai doa untuk kemudian diamini.
Padahal kejayaan ummat ini berada dalam untaian doa yang dihantarkan ke ‘Arsy tempat Allah Subhanahu Wata’ala bertahta. Ingatlah Rasulullah Saw yang menghiba pada Allah Al-Malik sebelum ia mengarungi peperangan Badar bersama para sahabat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berdoa, “Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini (para sahabat) pada hari ini, Engkau tidak akan disembah.” Rasulullah terus berdoa hingga Abu Bakar mengingatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wassallam bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan mengingkari janji-Nya. (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam)
Padahal bagaimana mungkin Rasulullah Saw ragu pada janji Allah Subhanahu Wata’ala? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam pun tak pernah meragukan loyalitas dan kualitas para sahabat dalam menghadapi musuh. Apalagi Rasulullah pun seseorang yang memiliki pengalaman berperang dan fisik yang kuat. Namun, Rasulullah terus berdoa. Kejayaan ummat ini pun terletak pada tersambungnya doa Rasulullah Saw yang demikian khawatir akan kekalahan Kaum Muslimin dan harapnya pada pertolongan Allah Yang Mahaperkasa.
Poin ketakutan akan tak tersambungnya ikhtiar dengan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala dan besarnya harapan akan janji Allah Subhanahu Wata’ala yang tak pernah diingkari inilah yang semakin memudar dalam jiwa anak-anak kita. Namun, disinilah sejatinya perjuangan yang harus kita tempuh agar kelak kita tak hanya mewariskan anak-anak yang kuat menggenggam dunia tetapi hatinya juga selalu kokoh terikat dengan akhirat.
Anak akan merasa butuh untuk berdoa manakala ia menyadari bahwa ada kekuatan yang Mahakuasa untuk melindunginya dan memberikan yang terbaik padanya, lebih dari dirinya bahkan melebihi apa yang selama ini dilakukan orangtuanya. Alangkah baik untuk mengenalkan anak pada keperkasaan Allah Subhanahu Wata’ala melalui hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia untuk mengendalikannya.
Seperti yang terjadi pada suatu sore manakala hujan turun dengan lebatnya diiringi petir yang menyambar-nyambar.  Seorang anak menarik lengan ibunya yang tengah sibuk membereskan apa-apa yang dikhawatirkan terkena bocor. Ibunya dikejutkan oleh kata-kata sang anak, “Ibu, sini dulu. Beldoa dulu yuk sama Allah, supaya lumah (rumah) kita nggak banjil (banjir),” demikianlah celoteh cadel balita mungil itu yang membuat ibunya sejenak terperangah. Betapa ia sibuk membereskan apa-apa yang mampu dijangkaunya tetapi si anak justru mengajaknya memohon pada Robb-nya terlebih dahulu.
Dimulai dari Doa
Menanamkan keyakinan pada anak bahwa ada kekuatan yang Mahaperkasa dibandingkan apa yang manusia mampu lakukan adalah bagian dari menanamkan iman. Bahwa kekuatan manusia justru terletak pada kepasrahannya pada Allah Subhanahu Wata’ala.  Memperlihatkan pada anak bahwa ada hal-hal yang terjadi dengan kekuatan doa, seperti kisah-kisah Rasulullah dalam peperangan, akan menambah keyakinannya bahwa doa untuk memperoleh pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala adalah kebutuhan yang tak dapat ditinggalkan.
Maka, alangkah indahnya, bila kita selalu meyakinkan pada anak bahwa Allah Subhanahu Wata’ala selalu sayang padanya. Kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala lebih besar dari apapun yang mampu dilihat oleh panca indera kita. Karena itu, kita selalu bisa melihat dan merasakan kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala, walau kita tak dapat melihat Allah Subhanahu Wata’ala saat ini.  Pemahaman-pemaham inilah yang akan mendekatkan anak pada Allah Subhanahu Wata’ala, merasa bahwa Allah Subhanahu Wata’ala disisinya dan selalu memperhatikannya.
Kedekatan dengan Pencipta akan memudahkan semua hal yang dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang kelak akan meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wata’ala dimuka bumi ini. Semakin lekat hati mereka dengan doa-doa yang selalu dipanjatkannya, maka dengan izin-Nya akan semakin lembut hatinya untuk tunduk pada titah-Nya. Hingga kalimat-kalimat-Nya pun akan semakin kokoh mengakar dalam hatinya. Menjadi tolak ukur kebenaran, menjadi kompas kehidupan, dan kelak ia akan benar-benar membaktikan dirinya sebagai orang-orang yang membela agama Allah Subhanahu Wata’ala.
Semua bermula dari doa. Dari ketundukkan hati yang membawanya pada kesalehan dan ketegapan untuk menjadi prajurit Allah SWT. Layaknya generasi saleh diawal bersinarnya Islam, yang berjalan tegap menghadapi berbagai kemusykilan dengan hanya berharap pada pertolongan-Nya saja. Yang gagah menantang para penguasa dunia dengan ketundukkan pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Yang meninggikan jiwa karena kebanggaannya menjadi hamba Allah dan bukan karena apa yang digenggamnya.
Semua bermula dari doa. Dari permohonan dan ketakutan tidak dipedulikannya iman dan pengorbanannya oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Maka, alangkah indahnya bila kita pun menjadi contoh bagi anak-anak kita tentang bagaimana memasrahkan diri dalam doa. Meminta bukan karena ingin menjadi mulia dimata manusia, melainkan karena ingin diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan dengan apa yang diberi-Nya. Memulai dengan doa, bukan karena ingin berhasil dan diiringi decak kagum manusia, tetapi karena yakin bahwa penentu akhir dari apa yang kita usahkan hanyalah Allah saja.
Maka, marilah memulai dengan doa. Agar anak-anak kita menjadi orang-orang yang saleh dan selalu melakukan apapun dalam payungan doa. Karena, doa kitalah yang akan menuntun hatinya untuk selalu berdoa.* /Kartika Ummu Arina
(www.hidayatullah.com)

05 June 2015

Sya’ban Bulan yang Dilalaikan Manusia

Oleh: Salim A Fillah
Sya‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
Sya‘ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab dan Ramadhan.
 وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Sya‘ban adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. ” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Karena itu, berdasar riwayat shahih disebutkan bahwa RasuluLlah SAW berpuasa pada sebagian besar hari di bulan Sya‘ban. ‘Aisyah berkata:
 فَما رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وما رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Tak kulihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam menyempurnakan puasanya dalam sebulan penuh, selain di bulan Ramadhan. Dan tidak aku lihat bulan yang beliau paling banyak berpuasa di dalamnya selain bulan Sya‘ban“. (HR Al Bukhari & Muslim).
Dalam Shahih Al Bukhari (1970) ada tambahan dari ‘Aisyah: “Tidak ada bulan yang Nabi SAW lebih banyak berpuasa di dalamnya selain bulan Sya‘ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” Maksud hadits: beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari bulan Sya‘ban, sebagaimana banyak riwayat lain yang menyatakan demikian.
Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan ‘berpuasa sebulan penuh’ padahal yang dimaksud adalah berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu.’ Demikian keterangan Ibnu Hajar Al ‘Asqalany dalam Fathul Bari, 4/213.
Maka berpuasa di bulan Sya‘ban adalah utama, karena: ’Amal-’amal manusia (secara tahunan) sedang diangkat ke hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.  Sya‘ban ialah bulan yang disepelekan; beramal dan  menghidupkan syi’ar di saat manusia lain lalai memiliki keutamaan tersendiri. Selain kedua hal itu, puasa di bulan Sya‘ban juga dimaknai sebagai: Penyambutan dan pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadan.
Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya didahului oleh pembuka yang mengawalinya; Haji diawali persiapan Ihram di Miqat, Shalat juga diawali dengan bersuci, berwudhu’, dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat.
Hikmah lain: puasa di bulan Sya‘ban akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan optimal. Sebab sering di awal Ramadhan banyak daya dan  waktu habis untuk penyesuaian diri; padahal tiap detik bulan mulia sangat berharga.
Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencantumkan pendapat: puasa Sya‘ban seumpama sunnah Rawatib (pengiring) bagi puasa Ramadhan. Untuk shalat; ada rawatib qabliyah dan ba’diyah. Untuk Ramadhan, qabliyahnya; puasa Sya‘ban dan  ba’diyahnya; puasa 6 hari di bulan Syawal. Keutamaan Sya‘ban bisa kita lihat di: Tahdzib Sunan Abu Dawud, 1/494, Latha’iful Ma’arif, 1/244.
Nah, bagaimana tentang Nishfu Sya’ban?
Hadits-hadits terkait Nishfu  Sya‘ban ini sebagian dikategorikan dha’if (lemah), bahkan sebagian lagi dikategorikan maudhu’ (palsu). Utamanya hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu atau yang menjanjikan jumlah dan  bilangan pahala atau balasan tertentu.
Tetapi, ada sebuah hadits yang berisi keutamaan malam Nisfhu Sya‘ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu.
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu Sya‘ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya.” (HR Ibnu Majah (1390)).
Dalam Zawa’id-nya, riwayat ini dianggap dha’if karena adanya perawi yang dianggap lemah. Tetapi, Ath Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu’adz ibn Jabal dalam Mu’jamul Kabir (215) . Ibnu Hibban juga mencantumkan hadits ini dalam Shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). Al-Arna’uth dalam ta’liqnya pada dua kitab terakhir berkata, “SHAHIH dengan syawahid (riwayat-riwayat semakna yang mendukung).”
Al-Albani juga menilai hadits Nishfu Sya‘ban ini SHAHIH {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), Shahih Targhib wa Tarhib (1026)} Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat KEUTAMAAN.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, 291)
Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan TABI’IN di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan  Luqman bin Amir yang menghidupkan malam tersebut dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu Sya‘ban.
Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini BUKAN BID’AH!”.‘Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza’i, TIDAK MENYUKAI perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat dan berdoa bersama di Nishfu Sya‘ban.
Tetapi beliau -dan ‘ulama yang lain- MENYETUJUI keutamaan shalat, baca Al Quran dll. pada Nishfu Sya‘ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali (Latha’iful Ma’arif, 151) dan  Ibn Taimiyah (Mukhtashar Fatawa Al Mishriyah, 292)
Adapun ‘ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, dan  para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu Sya‘ban sebagai bid’ah.
Tapi kata mereka; qiyamullail sebagaimana tersunnah pada malam lain dan  puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik.
Demikian agar perbedaan pendapat ini difahami dan  tak menghalangi kita untuk melaksanakan segala ‘amal ibadah utama pada bulan Sya‘ban. Bulan Sya‘ban adalah juga kesempatan tuk meng-qadha’ hutang puasa Ramadhan kemarin sebelum datangnya Ramadhan berikut. ‘Aisyah berkata:
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فما أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شعبَان، الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ
“Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya‘ban, karena sibuk melayani Nabi”. (HR Al Bukhari-Muslim)
Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 8/21) & Ibn Hajar (Fathul Bari, 4/189) menjelaskan; dari hadits ‘Aisyah ini disimpulkan: Jika ada ‘udzur, maka qadha’ puasa bisa diakhirkan sampai bulan Sya‘ban. Tanpa ‘udzur, menyegerakannya di bulan Syawal dst lebih utama.
Sya‘ban: Bagaimana jika lalai; tanpa ‘udzur, hutang puasa belum terbayar, tapi Ramadhan baru telah datang? Jumhur ‘ulama berpendapat:
Dia harus beristighfar atas kelalaiannya pada kewajiban itu dan harus bertekad untuk segera meng-qadha’-nya setelah Ramadhan ini.
Menurut mereka, tiada kewajiban khusus selain hal itu. Tetapi sebagian ‘ulama berpendapat agar si lalai menambahkan 1 hal lagi.  Yakni mengeluarkan 1/2 Sha’ makanan pokok (+/- 1,5 kg) untuk tiap hari yang terlalai belum dibayar hutang puasanya tahun lalu.
Ini sebagai pengingat atas kelalaiannya dan dia harus tetap mengganti puasa yang terlalai diganti tahun ini pada tahun depannya. Ini berdasar ijtihad beberapa sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Tak ada nash khususnya, tetapi ijtihad ini dianggap baik. (Fathul Bari, 4/189)
Jika masuk bulan Sya‘ban, hendaknya kita saling mengingatkan (juga terutama pada kaum wanita) yang punya hutang puasa agar ditunaikan.
Sehari atau 2 hari terakhir Sya‘ban dinamakan Yaumusy-Syakk (hari keraguan), sebab ketidakjelasan apa sudah masuk Ramadhan atau belum.
Nabi bersabda: لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ، إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ
“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” {HR Al Bukhari & Muslim}
Maknanya; terlarang tuk sengaja mengkhususkan berpuasa pada Yaumusy Syakk. Tetapi boleh bagi yang HARUS (nadzar, qadha’, dll) dan boleh juga yang BIASA (karena puasa Dawud, bertepatan Senin/Kamis, dll). Hikmah pelarangan itu sekedar sebagai pemisah antara puasa Ramadhan yang fardhu dengan puasa sebelum/sesudahnya yang sunnah. (Syarh Muslim 7/194, Latha’iful Ma’arif 151)
Demikian Shalihin dan shalihat bincang kita tentang Sya‘ban.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَعْبَانَ وَوَفِّقْنَا فِيهِ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah; berkahi kami di bulan Sya’ban, karuniakan taufiq pada kami di dalamnya, & sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”
Salim A Fillah adalah penulis buku Lapis Lapis Berkah. Twitter @salimafillah

(www.hidayatullah.com)

04 June 2015

Al-Quran Dihujat dan Problem Adab

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi
JAMAN dahulu kaum Muktazilah menganggap Al-Quran sebagai makhlūq (baharu, diciptakan, tidak qadīm) sudah dianggap sedemikian demikian “liberal”. Padahal mereka tidak menginginkan adanya ta‘addud al-qudamā’ (banyaknya yang qadīm selain Allah).
Namun kaum liberal sekarang sepertinya sudah jauh melampaui kaum Muktazilah itu. Karena sudah banyak yang berani menghujat Al-Quran. Alasannya untuk kritik, namun bermula dan berakhir tanpa etik.
Dari Mesir, misalnya, muncul seorang yang bernama Nasr Hamid Abū Zayd yang mengatakan bahwa Al-Quran merupakan “produk budaya” (muntāj tsaqāfī) dalam bukunya Mafhūm al-Naṣṣ. Karena Muhammad bukan penerima yang pasif. Dia benar-benar aktif. Demikian menurut Abū Zayd. Dan dari Perancis muncul Mohammed Arkoun yang mengatakan bahwa sejak ‘Utsmān ibn ‘Affān membukukan Al-Quran ia berubah menjadi “Korpus Resmi Tertutup” (Closed Official Corpus): tidak bisa lagi dikutak-katik, yang seharusnya terbuka. Itu menurut Arkoun. Islam sepertinya harus dipikirkan ulang, katanya dalam Rethinking Islam.
Disamping itu, hujatan kepada Al-Quran datang dari luar, utamanya orientalis. Dan jika dijabarkan ternyata isi orientalis adalah kaum Yahudi dan Kristen. Semuanya menghujat Al-Quran. Diantaranya, mereka menyatakan bahwa Al-Quran dianggap menjiplak Bible bahkan mengandung mitos-mitos terdahulu. Jadi, tidak ada hal baru dalam Al-Quran. Semuanya jiplakan. (Lihat, Qosim Nursheha Dzulhadi, “Studi Al-Quran Orientalis (Tesis di Universitas Darussalam, Gontor, 2011”). Namun hujatan kaum orientalis masih dapat dimaklumi. Karena mereka adalah orang-orang yang tak percaya kepada Al-Quran sebagai wahyu. Yang aneh hujatan itu datang dari dalam, seperti disebutkan sebelumnya.
Dan ternyata, hujatan itu terus berlanjut. Seperti lari estafet: sambung-menyambung menjadi satu. Sulawi Ruba, misalnya, dosen di UIN Sunan Kalijaga menganggap Al-Quran tidak ada apa-apanya. Ia sama saja dengan rumput. Jadi, bisa dipijak. Dan itu dia sampaikan di hadapan mahasiswa yang diajarnya. Dan terakhir, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) dikabarkan menginjak Al-Quran. Dengan enteng dia mengatakan, “Saya memang menginjak. Tapi saya istighfar.” Sungguh aneh tapi nyata.
Problem Ilmu dan Adab
Sejatinya, hujatan terhadap Al-Quran berkaitan-erat dengan konsep ilmu. Karena di dalam Islam ilmu itu harus berbanding-lurus dengan iman dan amal. Ilmu adalah gizi iman dan iman itu buah ilmu. Iman kemudian mewujud dalam amal-shaleh. Karena ilmu yang tidak diamalkan, laksana pohon tanpa buah. Dalam bahasa Imam al-Ghazālī (w. 505 H/1111 M), al-‘amal bilā ‘ilm saqīm. Wa al-‘ilm bilā al-‘amal ‘aqīm (amal tanpa ilmu itu sakit. Dan ilmu tanpa amal mandul). Dan salah satu wujud dari buah ilmu itu adalah adab (etika, akhlaq). Artinya, seorang ‘ālim harus beradab. Dan bentuk adabnya adalah kasyyah (rasa takut) kepada Allah (QS: Fāṭir [35]: 28).
Dan ternyata, di ranah ilmu dan adab inilah saat ini menjadi tantangan umat yang paling serius. Terutama tantangan para ulama, intelektual, dan pendidiknya. Dimana banyak intelektual yang, dalam bahasa Prof. al-Attas (l. 1931), lost of adab (kehilangan adab). Dan fenomena lost of adab ini merupakan penyakit kronis yang menjangkiti sebagian intelektual Muslim. Sehingga lahirlah para intelektual yang rajin menghujat Al-Quran bahkan sampai ada yang sangat berani menginjak Al-Quran.
Dan kemungkinan besar mengapa muncul hujatan terhadap Al-Quran adalah karena ilmu dan adab yang minim tentang Al-Quran. Diantaranya adalah ilmu yang menegaskan bahwa Al-Quran itu adalah Kalāmullāh yang suci (sakral), bukan buatan manusia. Ketika ia diyakini sebagai Firman Allah di situ harus muncul proses pengagungan terhadap Al-Quran (ta‘zhīm al-Qur’ān). Jika tidak ada ilmu tentang Al-Quran sebagai Firman Allah, rasa takut (al-khasyyah) tidak akan muncul. Ketika ia tidak muncul, maka yang ada adalah pelecehan dan hujatan terhadpnya.
Maka dapat disimpulkan bahwa ilmu memang tidak serta-merta menjadikan pemiliknya takut kepada Allah. Tergantung ilmu yang dia pelajari mau dijadikan apa. Sehingga ‘Abdullāh ibn ‘Abbās menyatakan, “Ilmu itu ada dua jenis: ilmu yang bersemayam di dalam hati dan ini ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu yang hanya keluar dari lisan saja. Ilmu model ini hanya merupakan cara Allah menyesatkan seorang hamba.”
Itu sebabnya dalam Bidāyat al-Hidāyah Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) mengutip satu hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam  yang berbunyi, “Siapa saja yang bertambah ilmunya namun tidak bertamah hidayahnya. Maka ia akan semakin jauh dari Allah.” Lebih dahsyat lagi adalah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. yang menyatakan, “Manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah seorang ‘ālim yang ilmunya tidak dimanfaatkan oleh Allah.” (Lihat, Imam Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Biāyat al-Hidāyah (Jakarta: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, Cet. I, 1431 H/2010 M), 10).
Kalau demikian, problem sesungguhnya adalah pada ilmu (al-‘ilm) yang benar. Namun tidak sekadar ilmu. Melainkan ilmu yang prosesnya benar, cara menghasilkannya benar, dan tujuannya benar. Ini harus pula dikaitkan dengan konsep niat di dalam menuntut ilmu. Karena seseorang akan mendapat apapun dari amalnya tergantung niatnya. Kalau niat dalam menuntut ilmu sudah rusak, maka ilmu pun akan digunakan pada tujuan-tujuan yang tidak benar.
Padahal, dalam sebuah sabdanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sudah mengingatkan, “Siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-bangga kepada ulama atau hanya untuk mempermainkan orang-orang bodoh atau agar manusia meliriknya, maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.” (Lihat, Imam al-Ghazali, Minhāj al-‘Ābidīn (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tt., 9).
Itulah problem keilmuan yang sesungguhnya: problem niat adan adab. Yang saat ini sepertinya sudah mulai luntur. Ijazah sepertinya sudah banyak yang mendahulukan. Tapi adab dalam menuntut ilmu menjadi hal yang pinggiran. Maka tidak heran kalau akhir-akhir ini banyak terjadi hujatan terhadap Al-Quran. Karena kitab suci ini sudah tidak lagi dihormati sebagai Firman Tuhan. Padahal jika konsep ilmu dan paham adab-nya mapan, tidak akan terjadi hujatan. Karena, dalam bahasa A. Qodri Azizy, Al-Quran dan hadits tidak mungkin diacak-acak karena ia adalah wahyu. Karena perwujudan ijmā‘ Sahabat sudah jelas. (A. Qodri Azizy, Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman (Semarang: Penerbit Aneka Ilmu, 2003: 14). Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.*
Penulis adalah guru di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia”

(www.hidayatullah.com)

03 June 2015

PUASA DIBULAN SYA'BAN

Dianjurkan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Terdapat riwayat bahwa Nabi sallallahu’alaihi wa sallam sering  berpuasa di bulan Sya’ban.
Diriwayatkan oleh Ahmad, 26022. Abu Daud, 2336. Nasa’i, 2175. Ibnu Majah, 1648 dari Ummu Salamah radhiallahu anha berkata: ”Aku tidak melihat Rasulullah sallahu’alaihi wa sallam berpuasa dua bulan secara berurutan kecuali beliau melanjutkan bulan Sya’ban dengan Ramadhan."
Dalam riwayat Abu Daud (dikatakan), "Sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh dalam setahun kecuali pada bulan Sya’ban dilanjutkan ke Ramadhan." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Abu Daud, no. 2048)
Dalam hadits ini tampak bahwa Nabi sallallahu alaihi wa salam biasanya berpuasa bulan Sya’ban    penuh. Akan tetapi ada (hadits) lain bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam biasanya berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali sedikit.
Diriwayatkan oleh Muslim, 1156, dari Abu Salamah dia berkata, saya bertanya kepada  Aisyah rardhiallahu anha tentang puasanya Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Dia menjawab:
كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ ، وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلا قَلِيلا (رواه مسلم، رقم 1156)
"Beliau biasanya berpuasa sampai kami mengatakan sungguh telah berpuasa (terus). Dan beliau berbuka sampai kami mengatakan sungguh beliau telah berbuka. Dan aku tidak melihat beliau   berpuasa  yang lebih banyak dibandingkan pada bulan Sya’ban. Biasanya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya, dan biasanya beliau berpuasa pada bulan sya’ban kecuali sedikit." (HR. Muslim)
Para ulama berbeda pendapat dalam mengkompromikan dua hadits ini,
Sebagian mereka berpendapat hal ini terkait dengan perbedaan waktu. Pada sebagian tahun   beliau sallallahu alaihi wa sallam berpuasa Sya’ban secara penuh. Dan pada sebagian tahun lainnya beliau sallallahu alaihi wa salam berpuasa kecuali sedikit (yang tidak berpuasa). Pendapat ini adalah pilihan Syekh Ibnu Baz rahimahullah." (Silakan lihat Majmu Fatawa Syekh Ibnu Baz, 15/416).
Sebagian lainnya berpendapat, bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan. Sementara hadits Ummu Salamah maksudnya adalah berpuasa bulan Sya’ban kecuali sedikit (yang tidak berpuasa). Mereka mengatakan bahwa dari sisi bahasa kalau seseorang sering berpuasa, dibolehkan mengatakan berpuasa sebulan penuh.
Al-Hafiz berkata: “Sesungguhnya hadits Aisyah menjelaskan bahwa maksud dari hadits Ummu Salamah, bahwa Beliau sallallahu alaihi wa sallam tidak berpuasa dalam setahun sebulan penuh kecuali Sya’ban bersambung dengan Ramadhan.” Yakni bahwa beliau lebih banyak berpuasanya. At-Tirmizi mengutip  dari Ibnu Mubarak sesungguhnya beliau berkata, "Dalam bahasa Arab dibolehkan mengatakan telah berpuasa sebulan penuh bagi orang yang  berpuasa pada sebagian besar hari dalam satu bulan tersebut."
Ath-Thayyiby berkata, dimungkinkan beliau sekali berpuasa Sya’ban secara penuh, dan di lain waktu  berpuasa sering dalam bulan itu, agar tidak disimpulkan kalau hal itu wajib dilakukan sebulan penuh, seperti Ramadhan. Kemudian Al-Hafiz mengomentari, "Pendapat pertama lebih tepat."
Maksudnya bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak melakukan puasa Sya’ban sebulan penuh. Dengan dalil riwayat Muslim, no. 746 dari Aisyah radhiallahu anha, belaiu berkata, "Tidak aku ketahui  bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an semalam penuh, tidak juga melakukan  shalat malam sampai subuh. Dan tidak berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan."
Begitu juga berdasarkan riwayat Bukhari, no. 1971 dan Muslim, no. 1157 dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata, "Nabi sallallahu alahi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan."
As-Sindy berkata dalam menjelaskan hadits Ummu Salamah, “Teks 'Melanjutkan (puasa) Sya’ban ke Ramadhan’  yakni berpuasa di kedua bulan. Yang tampak dari teks tersebut adalah berpuasa Sya’ban sebulan penuh. Akan tetapi terdapat riwayat yang menunjukkan sebaliknya. Oleh karena itu   dipahami bahwa beliau berpuasa pada sebagian besar harinya, sehingga seakan-akan beliau  berpuasa  penuh  dan bersambung ke bulan Ramadhan."
Kalau dikatakan, apa hikmahnya memperbanyak berpuasa di bulan Sya’ban? Maka jawabannya adalah perkataan Al-Hafidz: “Yang lebih tepat apa yang diriwayatkan oleh Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah dari Usamah bin Zaid, dia berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau (sering) berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?"  Beliau bersabda: “Itu adalah bulan yang kebanyakan orang melalaikannya yaitu antara    Rajab dan Ramadhan. Yaitu bulan yang di dalamnya di angkat amalan-amalan kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Maka aku ingin amalanku di angkat, aku dalam kondisi berpuasa.” (Dinyatakan hasan   oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasa’i, no. 2221)
Wallahu’alam .

(http://islamqa.info/id/13729)

15 May 2015

Berbagai Ritual Syirik pada Bulan Suro / Muharam


Muharram menurut orang Jawa
Bulan Muharram di Pulau Jawa disebut dengan bulan Suro. Menurut masyarakat Jawa, bulan Suro adalah bulan yang dikeramatkan. Di dalam bulan ini mereka dilarang mengadakan acara hajatan atau pesta seperti pernikahan, sunatan, dan acara lainnya. Jika hal ini dilanggar maka akan mendatangkan malapetaka dan musibah.

Ritual bulan Muharram

Karena dianggap sebagai bulan keramat, maka masyarakat mengadakan berbagai macam acara diantaranya :

1. Sadranan
Yaitu pembuatan nasi tumpeng yang dihiasai berbagai macam lauk dan kembang. Mirip dengan sesaji. Kemudian nasi tumpeng tadi dihanyutkan ke laut selatan yang disertai juga dengan kepala kerbau.
Menurut cerita, tujuan sadranan supaya sang ratu pantai selatan memberikan berkah dan tidak mengganggu. Masyarakat yang melakukan acara ini ada di daerah pesisir selatan Tulungagung dan Cilacap. Di Banyuwangi upacara seperti ini disebut dengan Petik Laut.
2. Tirakatan.
Tirakatan biasanya diadakan pada malam satu suro (Muharram). Pada malam ini masyarakat melakukan ritual, renungan, dan do’a-do’a. tujuannya adalah untuk mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan dan agar terhindar dari malapetaka.
3. Ngalap Berkah
Yaitu dengan mengunjungi daerah yang dianggap keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda).
4. Kirab kerbau bule.
Acara kirab ini ilaksanakan dengan membawa kerbau berkeliling yang kemudian dimandikan. Kerbau ini dikenal dengan nama Kyai Slamet yang berada di keraton Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga baik warga Solo maupun dari luar Solo. Mereka mengharapkan berkah dari sang kerbau dengan memegang kerbau, mengambil air bekas mandi kerbau, bahkan ada yang mengambil kotoran kerbau. Na’udzubillah.
5. Lek-lekan
Mitos yang lain yaitu berjaga tidak tidur pada malam hingga pagi hari di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng kraton sambil membisu .
6. Ruwatan
Ruwatan berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.
7. Memandikan keris pusaka
Agar terhindar dari mara bahaya, masyarakat memandikan pusaka seperti keris, pedang, tombak, dan senjata lainnya. Mereka mengira bahwa senjata itu harus dirawat dan dijaga. Jika tidak maka dia akan murka.
Demikian berbagai macam ritual-ritual yang melanda masyarakat kita. Bagaimana di daerah anda? Apa ada ritual lain yang belum disebutkan? Silahkan menambah informasi seputar ritual syirik yang ada di daerah anda, untuk diketahui masyarakat kita agar mereka tidak ikut-ikutan tersesat. Silahkan tulis dikomentar ya….semoga bermanfaat,  terimakasih.

07 January 2015

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Ada sebagian kalangan yang bingung dengan hukum peringatan Maulid Nabi SAW. Ada yang mengatakan bid'ah,  ada  yang mengatakan tidak bid'ah, dan ada pula yang  mengatakan bid'ah hasanah. Berikut ini mungkin bisa membantu memahami perbedaan pendapat mengenai peringatan Maulid Nabi SAW ini.

Silahkan baca disini untuk pendapat bid'ah dan disini untuk pendapat yang tidak bid'ah. Semoga bermanfaat.

12 May 2014

Aqiqah Putri Bapak Soewito Jakarta

Allhamdulillah telah terlaksana aqiqah putri Bapak Soewito dari Jakarta, ananda Ismawanti dan Yuni Wulan Sari. Masakan dikirim ke Panti Asuhan Cut Nya' Dien dan ke Panti Asuhan Istiqomah Banyuwangi. Semoga keduanya menjadi anak-anak sholihah, dan diberikan kehidupan yang barokah.


17 November 2011

Selamat Tahun Baru 1433 H

1432 H segera meninggalkan kita,  mari kita sambut tahun baru  1433 dengan semangat baru dan niat yang lurus untuk meraih ridho Allah SWT. Tingkatkan amal sholeh kita dengan meneladani Rasulullah SAW,  dalam seluruh aspek kehidupan, ( sponsor : jangan lupa juga untuk melaksanakan aqiqah bagi putra-putri kita yang belum diaqiqahi, atau aqiqah untuk diri kita sendiri kalau orang tua kita belum meng-aqiqahi kita ).
Baiklah berikut ini doa awal tahun baru, semoga bermanfaat.  
Selamat Tahun Baru 1433 H

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa 'alaa fadhlikal-'azhimi wujuudikal-mu'awwali, wa haadza 'aamun jadidun qad aqbala ilaina nas'alukal 'ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa'ihi wa junuudihi wal'auna 'alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu'i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni
ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu 'alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.
Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.

07 November 2011

Doa Akhir Tahun


Sebentar lagi kita akan mengakhiri tahun 1432  H dan segera memasuki 1433 H, berikut ini doa yang kita baca ketika akhir tahun.


 
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa shallallaahu 'ala sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma maa 'amiltu fi haadzihis-sanati mimmaa nahaitani 'anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halamta 'alayya ba'da qudratika 'alaa uquubati wa da'autani ilattaubati minhu ba'da jur'ati alaa ma'siyatika fa inni astaghfiruka fagfirlii wa maa 'amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa'adtani 'alaihits-tsawaaba fas'alukallahumma yaa kariimu yaa dzal-jalaali wal ikram an tataqabbalahuu minni wa laa taqtha' rajaai minka yaa karim, wa sallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihii wa sahbihii wa sallam
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.
Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.

03 November 2011

Khutbah Idul Adha 1432 H / 2011

بسم الله الرحمن الرحيم 
BERKORBAN DEMI TEGAKNYA ISLAM
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر 9×
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!
Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Hari ini, umat Islam di seluruh dunia telah disatukan oleh Allah sebagai satu umat. Mereka merayakan hari Raya Idul Adhha bersama-sama sebagai umat Islam, bukan sebagai bangsa Arab, Afrika, Eropa, Amerika, Australia maupun Asia. Mereka merayakan hari agung dan suci ini sebagai satu umat, yang diikat oleh akidah yang sama, yaitu akidah Islam. Dan diatur dengan hukum yang sama, yaitu hukum Islam.
Namun sayangnya, kesatuan mereka sebagai umat ini hanya sesaat. Sebab, begitu mereka selesai mengerjakan shalat Idul Adhha, kesatuan itu pun sirna. 1,4 milyar umat Islam yang kini tengah merayakan Idul Adhha itu pun kembali menjadi buih, dan tidak berdaya menghadapi penistaan demi penistaan yang terus menghampiri mereka.
Lihatlah, untuk menjaga kehormatan dan kesucian Nabi Muhammad dan keluarga baginda, yang terus-menerus dihina dan dinistakan saja mereka tidak mampu. Paling-paling mereka hanya bisa mengutuk, mengecam, memprotes atau menuntut agar penguasa negeri kaum Muslim itu menyeret dan mengadili pelakunya. Tetapi, apakah seruan itu pernah didengarkan? Tentu saja tidak. Karena para penguasa mereka tidak pernah menjadi penjaga agama mereka. Tidak pernah menjadi pembela kehormatan Nabi mereka. Bahkan, menjadi penjaga wilayah mereka sendiri pun tidak. Sebaliknya, mereka malah bahu-membahu dengan kaum Kafir penjajah agar bisa menduduki dan menguras kekayaan alam negeri-negeri mereka.
Lihatlah, andai bukan karena bantuan para penguasa yang berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan seluruh umat Islam, tentu AS dan sekutunya tidak akan bisa menduduki Irak dan Afganistan. Israel juga tidak akan bisa terus-menerus mengangkangi tanah suci Palestina, yang diberkati oleh Allah. Pakistan juga tidak bisa diobrak-abrik dan diobok-obok oleh AS; sehingga AS, dengan leluasa menjalankan operasi penculikan dan pembunuhan orang-orang yang dianggap bisa mengancam eksistensinya. Allahu akbar.
Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus begini? Apa yang menyebabkan kondisi umat yang dinyatakan oleh Allah sebagai umat terbaik ini begitu menyedihkan?; sampai seluruh kehormatan mereka dinodai di depan mata mereka, siang dan malam, mereka pun tak kuasa membelanya.
Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Kondisi ini sudah diisyaratkan oleh baginda Rasulullah saw. Dalam sabdanya, 14 abad yang lalu, baginda menyatakan:
«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ، قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
“Nyaris saja umat-umat itu mengerumuni kalian sebagaimana mereka mengerumi makanan di atas nampan. Ada yang bertanya, ‘Apakah karena jumlah kita yang saat itu memang sedikit?’ Baginda Nabi menjawab, ‘Tidak. Justru kalian ketika itu jumlahnya banyak, tetapi kalian ibaratnya seperti buih yang diombang-ambingkan gelombang. Allah benar-benar akan mencabut dari dada-dada musuh kalian perasaan segan terhadap diri kalian. Sementara Allah benar-benar akan tanamkan ke dalam benak kalian penyakit wahn.’ Ada yang bertanya, ‘Apakah penyakit wahn itu, wahai Rasulullah?’ Baginda menjawab, ‘Mencintai dunia, dan takut akan kematian.’” (H.r. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Penyakit wahn inilah yang menjangkiti umat Islam, sehingga mereka kehilangan haibah (wibawa), sebaliknya mereka justru menjadi penakut dan pengecut. Bandingkan dengan sikap generasi emas terdahulu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sikap Khalid bin Walid terhadap Hurmuz:
«أَمَّا بَعْدُ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، وَأَعْقِدُ لِنَفْسِكَ وَلِقَوْمِكَ الذَِّمَّةَ، وَأُقَرِّرُ بِالْجِزْيَةِ، وَإِلاَّ فَلاَ تَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَكَ، فَقَدْ جِئْتُكَ بِقَوْمٍ يُحِبُّوْنَ الْمَوْتَ كَماَ تُحِبُّوْنَ الْحَيَاةَ»
“Amma ba’du, masuk Islamlah kamu, maka kamu pun akan selamat. Aku telah mengikatkan jaminan untuk dirimu dan kaummu. Aku juga telah menetapkan jizyah. Jika kamu tidak mau, maka jangan sekali-kali menyesal, kecuali meratapi dirimu sendiri. Aku sungguh telah membawa kepadamu suatu kaum yang lebih mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”
Allahu Akbar, itulah rahasia kekuatan dan haibah (wibawa) pasukan Khalid bin Walid, generasi emas yang pernah dilahirkan oleh baginda Rasulullah saw. Inti dari kekuatan mereka adalah kesediaan mereka untuk berkorban. Mengorbankan apa saja yang mereka miliki; harta, keluarga, bahkan jiwa dan raga mereka. Dengan pengorbanan itulah mereka begitu menikmati kematian, sebagaimana orang-orang Kafir menikmati kehidupan. Tidak ada rasa takut dan gentar sedikit pun.
Mengapa kematian itu begitu mereka rindukan? Karena, di sanalah mereka mendapatkan kebaikan di sisi Rabb-nya, jannah an-na’im (surga dengan segala kenikmatannya). Pandangan mereka nun jauh ke akhirat; pada surga dengan segala kenikmatannya, dan neraka dengan segala adzab dan siksanya, itulah yang menghidupkan hati mereka, yang membentuk ketakwaan dan ketaatan mereka kepada Allah SWT.
Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail —’alaihima as-salam— dihadirkan oleh Allah kepada kita untuk menjadi ibrah, bagaimana ketataan seorang Ibrahim dan Ismail kepada Tuhannya; yang membuat mereka dengan suka-rela mengorbankan milik mereka yang paling berharga. Ibrahim bersedia menyembelih putranya, sementara Ismail dengan rela, tanpa keberatan sedikit pun, bersedia disembelih oleh ayahandanya tercinta. Ini semua, dilakukan demi membuktikan ketaatan mereka kepada Tuhannya.
Apakah fragmen seperti ini hanya ada di dalam kisah-kisah al-Quran? Ataukah pernah ada dalam kehidupan nyata umat Islam? Ternyata, fragmen seperti itu juga telah ditunjukkan dalam kehidupan nyata umat terbaik ini. Adalah Muhaishah, sahabat Rasulullah saw. yang mengikuti perintah baginda untuk membunuh seorang Yahudi dalam sebuah peperangan. Yahudi yang dibunuhnya itu tak lain adalah pedagang yang biasa memberi pakaian kepadanya. Kakak Muhaishah, yang belum memeluk Islam, yaitu Huwaishah marah kepada Muhaishah, adiknya, seraya memukul dan menghardiknya, ”Apakah kamu membunuhnya? Demi Allah, makanan di dalam perutmu itu berasal dari hartanya.” Muhaishah pun menjawab, ”Demi Allah, sekiranya orang yang memerintahkan aku untuk membunuhnya, memerintahkan aku untuk membunuhmu, pasti aku akan penggal lehermu.” Huwaishah bertanya lagi dengan nada heran, ”Demi Allah, kalau Muhammad memerintahkan kamu membunuhku, kamu akan membunuhku?” Muhaishah menjawab dengan tegas, ”Benar.” Padahal, mereka adalah kakak-beradik. Allahu Akbar. Inilah manifestasi ketaatan yang mereka tunjukkan. Inilah ketaatan generasi emas para sahabat Rasulullah saw.
Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Jika pada yaum Nahr (hari berkurban) ini, menyembelih hewan kurban di tanah suci bagi jamaah haji, pahalanya oleh Allah dihitung sebanyak tiap helai bulunya, maka bagaimana dengan pengorbanan total yang kita berikan kepada Allah sebagai manifestasi dari ketaatan kita dalam perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam?
Jika hari ini, jamaah haji yang tengah mengenakan pakaian ihram harus rela menahan sengatan panas matahari, sejak di Arafah, Muzdalifah sampai ke Mina, dengan keringat dan bau badan yang mengalir dari tubuh mereka, dan terhadap semuanya itu mereka dilarang untuk menutup kepala dan memakai wangi-wangian, karena kelak Allah akan membangkitkan mereka sebagai orang yang memenuhi panggilan-Nya (mulabbiyah). Jika karena ketaatannya, jamaah haji mendapatkan kemuliaan yang luar biasa, maka bagaimana dengan para pengemban dakwah, yang menghabiskan waktunya untuk berdakwah, berjalan di bawah terik matahari, siang-malam hidupnya untuk melakukan kontak dakwah, hari-harinya dihabiskan di perjalanan, hartanya pun habis dibelanjakan di jalan Allah, tentu mereka akan mendapatkan kemuliaan yang jauh luar biasa. Karena mereka bukan hanya menjalankan ketaatan untuk diri mereka sendiri, sebagaimana jamaah haji, tetapi ketaatan yang juga bisa ditebarkan kepada orang lain. Itulah kehidupan para pengemban dakwah. Pantaslah, jika karena jerih payahnya itu, apa yang mereka lakukan dinyatakan oleh Nabi lebih baik daripada terbitnya matahari dan bulan. Allahu Akbar 3x.
Inilah buah dari pengorbanan yang lahir dari ketaatan, ketakwaan dan pandangan jauh ke akhirat itu. Orang-orang yang taat ketika dipanggil oleh Allah, Rabb mereka, mereka pun menjawab:
«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ»
”Hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Bagi mereka, tidak ada kata lain, kecuali: Sami’na wa atha’na; kami dengar, dan kami taat. Mereka tidak lagi memilih-milih, karena tidak lagi ada pilihan bagi mereka di hadapan perintah dan larangan Allah, kecuali patuh. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً ﴿٣٦﴾
”Dan tidaklah layak bagi orang Mukmin laki-laki maupun bagi orang Mukmin perempuan, jika Allah dan rasul-Nyat telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.s. al-Ahzab [33]: 36)
Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Marilah kita jujur, apakah sikap kita sudah seperti itu? Apakah kita telah memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya?
Ketika Allah memerintahkan kita shalat, kita segera melaksanakannya. Ketika memerintahkan kita berpuasa, kita juga segera melaksanakannya. Ketika kita dilarang memakan Babi, kita pun segera meninggalkannya. Lalu, mengapa ketika Allah memerintahkan kita untuk menerapkan hukum-hukum-Nya, kita abai? Mengapa ketika Allah memerintahkan kita melaksanakan sistem ekonomi berdasarkan hukum-hukum-Nya, kita tidak menunaikannya? Begitu pun ketika Allah memerintahkan kita melaksanakan sistem pemerintahan berdasarkan hukum-hukum-Nya, kita tidak melaksanakannya? Bukankah kita tahu, bahwa hanya dengan hukum-hukum-Nya kehidupan kita akan menjadi lebih baik, dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat? Bukankah kita juga tahu, bahwa tanpa sistem pemerintahan Islam yang mampu mempersatukan umat, yakni Khilafah Islamiyah, umat ini menjadi lemah dan hina? Mereka tidak berdaya membela kehormatan mereka.
Mengapa dan mengapa, seruan-seruan Allah itu tidak segera dilaksanakan? Di manakah keataan total kita kepada Allah SWT, yang menciptakan kita, dan yang menghidupkan dan mematikan kita? Layak kah dengan sikap seperti itu kita mendambakan kemuliaan dan kehormatan. Layak kah dengan sikap seperti itu, kita menjadi umat yang disegani oleh kawan dan lawan? Bukankah dengan sikap seperti itu, kita justru telah menghinakan diri kita sendiri.
Lihatlah, kondisi politik, ekonomi, militer, sosial, budaya dan semua bidang kehidupan umat Islam saat ini. Semuanya dalam kondisi yang terpuruk. Kehidupan mereka dikuasai, dikontrol, disetir dan dijajah oleh musuh-musuh mereka. Kita hanya jadi pengekor yang tunduk dan patuh kepada orang-orang Kafir penjajah. Lihatlah, berapa ratus triliun rupiah telah dihabiskan untuk melaksanakan sistem demokrasi, yang nyatanya tidak membawa kebaikan bagi kehidupan mereka. Lihatlah ide-ide HAM, liberalisme, sekularisme, kapitalisme, dan segala isme-isme yang lain, yang jelas bertentangan dengan Islam, justru diterapkan oleh umat ini, karena mengekor orang-orang Kafir penjajah? Kita rela tunduk dan patuh kepada musuh Allah, Rasul-Nya dan orang Mukmin, sebaliknya rela mengkhianati Allah SWT dan Rasul-Nya. Jadilah kita umat yang hina. Terpuruk dalam kenistaan, kemiskinan, dan kebodohan. Jadilah kita korban keserakahan mereka hingga nyawa pun tidak ada harganya. Nyawa umat Islam begitu murah. Justru ketika Nabi telah menitahkan dalam Haji Wada’:
«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ»
”Sesungguhnya darah kalian, harta dan kehormatan kalian adalah merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari ini, di bulan ini dan di negeri ini.”
Tapi, lihatlah apa yang terjadi di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Moro, Pattani dan tempat lainnya menjadi bukti. Yang lebih menyedihkan lagi adalah kita masih tetap bergelimang dalam murka-Nya, karena dosa-dosa kita. Inilah kondisi terburuk umat Islam sepanjang sejarah.
Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah,
Marilah kita tengok kondisi kaum Muslim di dalam negeri. Di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini, hanya tersisa banyaknya jumlah saja. Bagaimana mungkin kita bangga sebagai Muslim kalau melarang dan membubarkan Ahmadiyah yang jelas sesat dan kafir saja tidak bisa? Apa yang tersisa dari identitas Islam kita, kalau melarang pornografi dan pornoaksi saja tidak bisa? Orang menikah dengan cara yang sah diteriaki, dihujat dan dikriminalkan; sementara orang yang berzina dan kumpul kebo dibiarkan. Ketika anak gadis kecil menikah, dipersoalkan karena dianggap mengambil haknya sebagai anak, tetapi ketika seorang perempuan rela hidup serumah tanpa tali pernikahan, tidak pernah dikatakan dilanggar hak keperempuan, hak keisterian dan hak pernikahannya. Inilah paradok perjuangan para pejuang HAM dan aktivis feminis. Belum lagi problem kemaksiatan lain, seperti korupsi, pembunuhan tanpa hak, perjudian, narkoba, suap, pemurtadan, praktik ekonomi ribawi, politik oportunistik yang tumbuh sebagai kejahatan sistemik. Maksiat yang terbesar adalah ditinggalkannya syariah Islam sekaligus diterapkannya hukum Kufur hingga menjadikan semua kaum Muslim di negeri ini telah maksiat berjamaah. Seolah kita pun tidak takut lagi, bahwa fitnah itu akan menyapu bersih siapa pun yang hidup di negeri penuh maksiat ini, tanpa kecuali, sebagaimana yang diingatkan oleh Allah:
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿٢٥﴾
”Takutlah kalian terhadap fitnah yang sekali-kali tidak hanya akan menimpa orang yang zalim di antara kalian saja. Ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Keras siksa-Nya.” (Q.s. al-Anfal [08]: 25)
Allahu Akbar 3x walillahil hamd.
Kaum Muslim rahimakumullah.
Kita telah menyaksikan semuanya itu dengan mata kepala kita. Belum cukupkah semua keburukan dan kehinaan ini mendera kita? Masihkah kita berharap pada keburukan dan kehinaan lain yang lebih buruk lagi? Padahal Allah telah menjadikan kita umat paling mulia. Lalu di manakah kemuliaan kita sekarang?
Tidak ada lagi solusi bagi semua kehinaan dan kesengsaran kita itu, kecuali dengan kembali kepada Islam, dengan menerapkan Islam secara kaaffah. Itulah yang menjadi penentu kemuliaan kita, sebagiamana dahulu Rasulullah saw. dan para sahabatnya —radhiyallahu ’anhum— telah meraihnya. Demikian pula khulafaur rasyidin, dan generasi-generasi setelahnya.
Wahai kaum Muslim, kini Allah memanggil kita, menuntut ketaatan total kita kepada-Nya. Ketaatan itu menuntut kita untuk berkorban; mengorbankan apa saja yang kita miliki demi menggapai ridha-Nya. Hanya dengan pengorbanan demi ketaatan itulah, kita akan meraih kembali kemuliaan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, itu semua, wahai kaum Muslim, hanya bisa diwujudkan jika hidup kita diatur dengan syariah-Nya di bawah naungan Khilafah Rasyidah ’ala Minhaj an-Nubuwwah.
Inilah saatnya kita berkorban. Tampil ke depan membawa panji-panji Islam. Berjuang dengan segenap daya dan kemampuan menyonsong kemengan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hari ini kita diperintahkan berkurban, yang semestinya menjadi ibrah, dalam memberikan pengorbanan klita yang lain. Tidak hanya berhenti pada penyembelihan kambing, sapi, atau unta. Namun pengorbanan harta, waktu, jiwa dan raga kita demi tegaknya agama Allah di muka bumi. Ingatlah, wahai kaum Muslim, bahwa untuk itulah Nabi bersumpah tidak akan pernah mundur walau selangkan, sampai Islam menang atau baginda saw. binasa:
«وَاَللّهِ لَوْ وَضَعُوا الشّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ حَتّى يُظْهِرَهُ اللّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ».
”Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini, maka demi Allah, sampai urusan (agama) itu dimenangkan oleh Allah, atau aku binasa di jalannya, aku tetap tidak akan meninggalkannya.” (Hr. Ibn Hisyam)
Karena itu pula, Rasulullah saw. tidak sekadar menyampaikan risalah, tetapi juga menerapkan risalah itu dalam kehidupan nyata, sehingga baginda dinobatkan sebagai Kepala Negara Islam pertama. Negara yang baginda wariskan itulah yang disebut sebagai Khilafah, dan kepala negaranya, disebut dengan Khulafa’ (jamak dari Khalifah). Namun sayang, negara itu kini telah tiada, setelah dihancurkan oleh kaum Kafir penjajah, Inggris dan sekutunya, bekerjasama dengan Kamal Attaturk, la’natu-Llah wa al-malaikah wa ar-Rasul wa an-nas ajma’in.
Padahal, dengan Khilafah itulah kaum Muslim pernah hidup mulia. Dunia pun aman, damai, dan sejahtera di bawah naungannya selama puluhan abad. Kini, setelah Khilafah tidak ada dan dunia tengah menghadapi krisis global, Khilafah pun menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh umat manusia. Karenanya, Khilafah bukan saja cita-cita perjuangan kaum Muslim, tetapi juga seluruh umat manusia. Di saat kapitalisme sudah berada di ujung tanduk, maka kembalinya Khilafah sudah di depan mata. Sekarang tinggal kita; apakah kita akan menjadi pejuang atau pecundang? Menjadi pejuang, atau sekadar menjadi penonton? Sesungguhnya, penerapan syariah dalam naungan Khilafah, merupakan kewajiban setiap Muslim, sekaligus merupakan wujud mengurbanan hakiki kita dalam meraih kemuliaan dan keridloan Allah SWT.
Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Allah SWT memberi kita kesabaran dan kekompakan, serta memungkinkan kita berperan penting dalam upaya menegakkan dan memperjuangkan negara Khilafah.
اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ والحمد لله رب العالمين.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ،
اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ تَحْرِيْرَ بِلاَدِ فَلَسْطِيْنِ وَاْلأَقْصَى، وَالْعِرَاقِ، وَالشَّيْشَانَ، وَأَفْغَانِسْتَانَ، وَسَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نُفُوْذِ الْكُفَّارِ الْغَاصِبِيْنَ وَالْمُسْتَعْمِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التُّقَى وَ الْعَفَافَ وَالْغِنَى نَاتِجَةً مِنْ صِيَامِنَا وَ اجْعَلْهُ شَافِعًا لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ مِنْ عَوْدَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، وَاجْعَلْنَا، وَذُرِيَّاتِنَا مِمَّنْ أَقَامَهَا بِأَيْدِيْنَا..
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Naskas diatas adalah  arsip   KHUTBAH IDUL ADHHA 1429 H namun tetap bisa kita gunakan kalau kita bisa menyesuaikan dengan kondisi sekarang.

16 October 2011

Sepuluh hari pertama dari bulan dzulhijjah

Sebentar lagi akan kita masuki bulan Dzulhijjah, berikut ini keutamaan di bulan Dzulhijjah.
Sepuluh hari pertama dari bulan dzulhijjah memang hari-hari yang penuh dengan keutamaan dan keberkahan, sebagaimana firman Allah swt :
وَالْفَجْرِ ﴿١﴾
وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴿٢﴾

Artinya : “demi fajar. Dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr : 1- 2)
Para ulama baik yang terdahulu maupun belakangan bersepakat bahwa makna dari malam yang sepuluh itu adalah di bulan dzulhijjah, demikian pula pendapat dari Ibnu Abbas.
Hal itu juga ditegaskan oleh Rasulullah saw bahwa dianjurkan bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal-amal saleh dan ketaatan di hari-hari awal dari dzulhijjah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa beliau saw bersabda,” ,”Tidaklah ada hari-hari yang beramal shaleh didalamnya lebih dicintai Allah dari pada hari-hari ini—yaitu sepuluh hari—para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah? Beliau saw menjawab,”tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang yang keluar dengan jiwa dan harta lalu orang itu tidak kembali dengan membawa itu semua sama sekali.”
Diantara amal-amal saleh yang bisa dilakukan seorang muslim di hari-hari itu misalnya : berpuasa. Meskipun terdapat riwayat Aisyah bahwa dirinya belum pernah melihat Rasulullah saw berpuasa dihari-hari awal—selain hari kesepuluh—akan tetapi tidak melihatnya Aisyah bukan berarti Rasulullah tidak berpuasa di hari-hari itu, sebagaimana dikatakan Nawawi didalam “Syarh” nya.
Jadi dibolehkan bagi seorang muslim untuk berpuasa dihari-hari itu terlebih lagi jika puasa itu dilakukan pada hari arafah (9 dzulhijjah) berdasarkan riwayat Abu Daud dari beberapa isterinya saw berkata,”Rasulullah saw berpuasa pada tanggal 9 dzulhijjah”
Selain puasa seorang muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak dzikrullah dengan memperbanyak takbir dan tahlil, sebagaimana firman Allah swt :
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
Artinya : “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (QS. Al Hajj : 28)
Akan tetapi hal itu tidaklah menafikan amal-amal saleh lainnya untuk bisa dilakukan pada hari-hari pertama dari bulan dzulhijjah. Dikarenakan hadits Bukhori diatas tidaklah membatasi dengan macam atau jenis amal saleh tertentu. Sebaliknya hadits itu memberikan keluasan kepada setiap muslim untuk memilih amal ketaatan apa saja yang dikehendakinya untuk dilakukan pada hari-hari itu karena pada dasarnya setiap amal taat adalah amal saleh, seperti : puasa, dzikir, membaca al Qur’an, itikaf, infaq, sedekah, umroh, haji atau yang lainnya.
Wallahu A’lam

15 October 2011

Kreteria hewan qurban

1.      Binatang yang dikurbankan adalah binatang ternak : Onta, Sapi dan Kambing atau yang  sejenis dengannya  ,baik Jantan atau betina
2.      Umur : binatang yang akan dikurbankan hendaklah telah berumur : Unta 5 tahun,  Sapi 2 tahun, kambing 1 tahun / sudah powel
3.      Binatang yang dikurbankan harus sehat, dan tidak cacat matanya, patah tanduknya, atau terpotong telinganya atau ekornya. Rosululloh SAW bersabda:
Rosulullah ditanya apa yang dihindarai dari binatang qurban ? beliau mengisyaratkan dengan tangannya  empat

أَرْبَعًا : الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِي
Ada  Empat yang tidak mencukupi syarat dalam berkurban : pincang yang jelas, buta sebelah matanya,sakit yang nyata, yang sangat kurus yang tidak ada dagingnya
(HR. Malik .didalam AlMuwath- tho'nya ) .[1]

4.      Yang paling afdhol adalah hewan yang paling gemuk dan paling mahal harganya ( HR. Al Hakim )
إن أفضل الضحايا أغلاها وأسمنها


[1] Zaadul Ma’ad 2/317, untuk hadits lihaj juga Muslim 1977, Abu Daud 2791, Albaghawi 1127, Ibnu Majah 3149
Ad

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India