17 November 2011

Berbagai Ritual Syirik pada Bulan Suro / Muharam


Muharram menurut orang Jawa
Bulan Muharram di Pulau Jawa disebut dengan bulan Suro. Menurut masyarakat Jawa, bulan Suro adalah bulan yang dikeramatkan. Di dalam bulan ini mereka dilarang mengadakan acara hajatan atau pesta seperti pernikahan, sunatan, dan acara lainnya. Jika hal ini dilanggar maka akan mendatangkan malapetaka dan musibah.

Ritual bulan Muharram

Karena dianggap sebagai bulan keramat, maka masyarakat mengadakan berbagai macam acara diantaranya :

1. Sadranan
Yaitu pembuatan nasi tumpeng yang dihiasai berbagai macam lauk dan kembang. Mirip dengan sesaji. Kemudian nasi tumpeng tadi dihanyutkan ke laut selatan yang disertai juga dengan kepala kerbau.
Menurut cerita, tujuan sadranan supaya sang ratu pantai selatan memberikan berkah dan tidak mengganggu. Masyarakat yang melakukan acara ini ada di daerah pesisir selatan Tulungagung dan Cilacap. Di Banyuwangi upacara seperti ini disebut dengan Petik Laut.
2. Tirakatan.
Tirakatan biasanya diadakan pada malam satu suro (Muharram). Pada malam ini masyarakat melakukan ritual, renungan, dan do’a-do’a. tujuannya adalah untuk mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan dan agar terhindar dari malapetaka.
3. Ngalap Berkah
Yaitu dengan mengunjungi daerah yang dianggap keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda).
4. Kirab kerbau bule.
Acara kirab ini ilaksanakan dengan membawa kerbau berkeliling yang kemudian dimandikan. Kerbau ini dikenal dengan nama Kyai Slamet yang berada di keraton Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga baik warga Solo maupun dari luar Solo. Mereka mengharapkan berkah dari sang kerbau dengan memegang kerbau, mengambil air bekas mandi kerbau, bahkan ada yang mengambil kotoran kerbau. Na’udzubillah.
5. Lek-lekan
Mitos yang lain yaitu berjaga tidak tidur pada malam hingga pagi hari di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng kraton sambil membisu .
6. Ruwatan
Ruwatan berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.
7. Memandikan keris pusaka
Agar terhindar dari mara bahaya, masyarakat memandikan pusaka seperti keris, pedang, tombak, dan senjata lainnya. Mereka mengira bahwa senjata itu harus dirawat dan dijaga. Jika tidak maka dia akan murka.
Demikian berbagai macam ritual-ritual yang melanda masyarakat kita. Bagaimana di daerah anda? Apa ada ritual lain yang belum disebutkan? Silahkan menambah informasi seputar ritual syirik yang ada di daerah anda, untuk diketahui masyarakat kita agar mereka tidak ikut-ikutan tersesat. Silahkan tulis dikomentar ya….semoga bermanfaat,  terimakasih.

1 comments:

sejarahnusantara.com said...

iya betul itu, udah tahu syirik msh aja dikerjain

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India